Siborongborong, Kompas - Masyarakat tujuh kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara lebih memilih meminjam uang melalui koperasi dibanding perbankan. Mereka menilai kehadiran koperasi kredit sangat membantu membiayai kebutuhan hidup, termasuk membeli perlengkapan sarana produksi pertanian.
"Koperasi kredit sangat membantu kami, mulai dari membiayai anak sekolah sampai membeli saprodi (sarana produksi) untuk sawah dan ladang kami," ujar Nety Simamora yang ditemui di Siborongborong, Tapanuli Utara, akhir pekan lalu.
Dia mengungkapkan, jika meminjam uang di bank konvensional, selain syaratnya yang rumit dan berbelit-belit, kadang pihak bank tidak percaya dengan kemampuan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. "Di koperasi kredit, setelah menjadi anggota, kami cukup diberi jaminan tiga anggota. Tak ada syarat lain yang berbelit," ujarnya.
Nety, pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu sekolah menengah pertama di Siborongborong menuturkan, pernah berencana meminjam uang ke Bank Sumut. "Yang ada malah kami harus memohon-mohon dan SK (surat keputusan) pengangkatan PNS harus diserahkan sebagai jaminan," katanya.
Koperasi Kredit "Satolop" di Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu koperasi kredit di Sumatera Utara (Sumut). Berdiri tahun 1975 dengan hanya 21 anggota, kini anggotanya menyebar ke tujuh kecamatan di Tapanuli Utara, dan jumlah pinjaman yang disalurkan meningkat dari hanya Rp 805.400 di awal pendiriannya, pada tahun 2006 total kredit yang disalurkan mencapai Rp 11,042 miliar.
Koperasi Kredit "Satolop" beranggotakan 45 kelompok dari 21 desa di tujuh kecamatan, yakni Siborongborong, Lintong Nihuta, Sipahutar, Pagaran, Sipaholon, Muara, dan Peranginan.
Anggota koperasi Satolop, Siti Naibaho menuturkan, banyak masyarakat di Tapanuli Utara merasa terbantu dengan kehadiran koperasi kredit ini. Selain mendapatkan sumber pendanaan yang mudah dan berbiaya rendah, mereka juga bisa mempersiapkan masa depan keluarganya.
"Tahun 1982 saya mendirikan rumah dari bantuan uang pinjaman koperasi. Kalau pinjam dari bank saya rugi, karena saat saya meminjam Rp 6 juta dari bank, harus dipotong Rp 600.000 untuk administrasi. Kalau di koperasi, saya pinjam Rp 13 juta, hanya dipotong Rp 396.000 untuk tambahan simpanan pokok plus materai. Jadi uang yang dipotong enggak hilang," katanya.
Ketua Koperasi Kredit Satolop, Hosman Hutabalian mengatakan, masyarakat mulai sadar bahwa menjadi anggota koperasi memiliki banyak keuntungan. "Kalau saat pendiriannya kami hanya beranggotakan 21 orang, sekarang anggota kami sudah 4.641 orang," katanya.
Jumlah ini bisa bertambah, karena masyarakat yang sebagian besar petani, tambah Hosman. lebih mudah mendapatkan sumber pendanaan untuk pembelian sarana produksi. (BIL)
Selasa, 30 Oktober 2007
Koperasi Jadi Tumpuan
Langganan:
Postingan (Atom)